Rabu, 16 Maret 2016

aku buta, aku bisu, tapi aku tidak tuli

Bagaimana mungkin memberikan yang terbaik jika tak satu tujuan?

Bagaimana mungkin maju jika yang lain memikirkan ke-bermanfaat-an mereka sedang masih ada yang memikirkan mana yang untung dan mana rugi? (kecuali mereka yang pengusaha)

Bagaimana mewujudkan cita-cita bersama jika hanya materi dan kepentingan-kepentingan politis yang diagungkan?
Disaat yang lain menangis bahkan untuk hidupnya, disaat yang lain bekerja sama membaiki apa yang kurang, disaat yang lain memikirkan keberlanjutan generasi penerus  di masa  yang akan datang, sedang aku hanya memikirkan hidupku yang hanya mau tahu apa yang aku mau, lantas dimana aku letakkan Tuhan?
Hati yang harusnya bebas iri, bebas dengki kini tak lagi berbicara Tuhan.
Ah.. bicara politik itu aku buta, bicara ambisi pun aku bisu, bersyukur aku tidak tuli...


Ayo kita berbenah, ciptakan perdamaian dunia. Benar-benar jenuh dan muak dengan politik yang tidak sehat. Perilaku organisasi yang ku pelajari di bangku kuliah itu tak sebegini juga rasanya. Inikah seninya kehidupan? Bermacam warna perilaku, bermacam rupa watak manusia.

Istana yang megah berdiri karena rajanya baik. 
Raja yang baik itu yang mengayomi penduduknya, yang menyejahterakan pekerjanya, yang selalu memikirkan yang terbaik untuk semua yang berada di bawah kekuasaan raja dengan titah-titah atau aturan yang baik.

Istana yang kokoh berdiri karena pekerjanya baik.
pekerja yang baik itu yang menjaga nama rajanya, bekerja sesuai titah dan memberlakukan sama untuk setiap penduduk istana, bukan istimewa kepada keluarganya maupun keluarga raja saja. 

Istana yang indah berdiri karena penduduknya baik.
penduduk yang menghormati raja beserta seluruh jajaran pekerjanya. mereka percaya, mendukung dan membantu demi kebaikan. tak segan mengkritisi namun juga memberi solusi.


Dan kata "baik" bukanlah baik menurut A, B, C, atau D. Baik itu kata Tuhan, yang terbaik adalah perintah Tuhan. Aku yakin baik itu objektif.
Wallahu a'lam. 


Tana Paser, malam kamis 16 Maret 2016
hanya sebuah cahaya kecil yang berdoa semua akan berbenah menuju kebaikan


Rabu, 05 Februari 2014

di Dua Ribu Empat Belas

Hanya 1 note di tahun 2013. bismillah mau menulis lagi..

Dua ribu empat belas, sejarah baru bagiku.
Memulai lembaran-lembaran baru, dengan komunitas baru, dengan aktivitas yg akan jauh berbeda dari sebelumnya.

Sebelumnya di Jawa, melihat dengan nyata aktivitas bapak dan ibu. Mendengar cerita si mbok. Bercengkrama dengan ponakan-ponakan.
Naik si bebi bit (motor satu2nya pemberian ibu setelah kelulusanku).

Tahun lalu,
menyusuri jalan mantup-surabaya adalah rutinitas bulananku.
Bergurau dg penghuni al fathoners (penghuni kos yg menemani 4 tahun sejarahku di surabaya), mencari pengalaman kerja beberapa bulan di sebuah konsultan pendidikan. Yang akhirnya kuselesaikan dan kembali ke pangkuan ibu dan bapak di desa kelahiranku.

Dua ribu empat belas kini aku sudah bukan penduduk jawa lagi.
Bersama dengan kakak kandungku, aku meraih asa yg baru. Bukan lagi sawah2 menghijau, tapi lebih banyak kebun sawit yg membentang. Bukan pohon mangga di depan rumah, tapi sudah berubah menjadi rerumputan rawa dan pohon kelapa yg menjulang di sepanjang jalan.
Di sini aku harus mendengar suara mereka dari telepon, di sini aku harus memandang mereka di poto, di sini aku harus memeluk mereka dengan doa. Karena doa satu2nya pengikat diantara kami.
Pemisahku hanya jarak, dan doa mendekatkan harapan kami. Aku disini untuk menggapai cita, berusaha mewujudkan asa mereka.
Tak perlu sedih, lingkungan baru, komunitas baru, suasana baru adalah hal yg biasa.
Aku harus bersyukur, semua terjadi karena izin Nya.
ke depannya, siapa yg tahu? just enjoy the show.
Jadilah sebaik-baik amanah bagi mereka dan bagi semua ^^

Tuhan, sayangilah mereka dan tunjukkan jalanku di sini.Aamiin.


Tanah paser duaribuempatbelas di enambelasJanuari.
kamar inspirasi ke-sekianku